27 April 2015

HF - Chapter 1



Hunteroku akademi, sebuah tempat berkedok sekolah bagi manusia-manusia ber"bakat" luar biasa. Sekolah dengan ukuran yang tidak normal dan akan membuat orang-orang awam berpikir bahwa ini sebuah sekolah elit tingkat atas, tanpa mengetahui apa isi didalamnya.
Fazria masih berdiri didepan gerbang dan menatap lekat-lekat bangunan itu. kakinya seolah enggan mengikuti perintah untuk melangkah masuk ke gedung itu. o'ouch kenapa kamu tidak bergerak mengikutiku, kaki sialan! gumamnya kesal tetap mencoba menggerakan kakinya.
"Apa yang kamu lakukan disini fa? kenapa ga masuk?" sapa seorang cewek.
"Ah gapapa, hal.. hanya, otak dan kaki ku sedang tidak akur." jawab Faa.
"Sejak kapan otak dan kaki mu pernah akur disaat mau memasuki sekolah?" ledeknya disambut cubitan gemas Faa di lengan gadis itu. Hal menggandeng lengan Faa dan beranjak masuk melewati gerbang.
"Ah, ohayou Faa, Hal," sapa Tika saat mereka berjalan menyusuri koridor sekolah.
"Ohayou Tika-chan" sahut Faa dan Hal berbarengan.
"Bagaimana liburan kalian kemarin?" tanya nya.
"Flat!" jawab hal cepat.
"Idem," sahut Faa. "gimana denganmu?"
"Aku melakukan beberapa penelitian bersama adit-kun," jawabnya sembari membuka pintu kelas.
"Ah, ohayou kalian!" sambut Anin, yang sedang berkumpul dengan Jojo, Laras, dan Dicky. Mereka pun menghampiri mereka.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Tika.
"Tika, kamu kan berasal dari keluarga otto, apa benar bangsa furo akan bangkit?" tanya Laras.
"Bangsa furo bangkit? tidak mungkin... bukankah mereka sudah disegel selama ratusan tahun?" ucap Faa sembari menatap Tika, meminta peyakinan argumen.
"Bener kata Faa, lagipula kamu dapet kabar begitu darimana sih, Ras?" tanya Jojo.
"Etto... tadi aku tak sengaja mendengar pembicaraan para guru ttg kebangkitan bangsa furo," aku nya.
"Bukannya tidak sengaja, tapi itu memang 'bakat' mu..." celetuk Dicky. Laras cengengesan.
Begitulah 'bakat' yang terkumpul dalam akademi ini. bakat yang hanya dimiliki oleh orang-orang terpilih dan tidak terpengaruh dari silsilah keturunan keluarga. Oh, kecuali keluarga Otto. Seluruh keturunan keluarga otto pasti memiliki 'bakat' dengan jenis yang berbeda-beda. maka dari itu keluarga Otto dianggap suci karna tiap-tiap anggota keluarganya memiliki anugrah 'bakat' tanpa terkecuali.
"Hey, hey, Tika, apa ini ada hubungannya dengan penelitian yang kamu lakukan bersama Adit?" tanya Hal.
"Itu..."
"Itu masih belum 100%, aku dan tika masih akan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini." sela Adit yang baru saja tiba dikelas bersama seorang cewek.
"Berarti apa yang didengar Laras ada benarnya, kan?" ujar Anin. baik Adit maupun Tika tidak ada yang menjawab hal itu.
"Mau bangkit atau tidak para bangsa furo itu, kita harus tetap menjadi kuat, bukan?" ucap Thea.
"Itu benar, kita berada disekolah ini karna kita orang-orang pilihan dan sekolah ini membantu kita menjadi lebih kuat untuk melindungi manusia dari ancaman apapun, terutama bangsa furo..." ucap Jojo. semua memandang Jojo, terkesima akan kebijakannya.
"Kamu kesambet apa Jo bisa bijak gitu?" tanya Anin.
"Kesambet cintamu," sahutnya cengengesan. Anin mencubit lengan Jojo. Kami tertawa melihat tingkah kedua orang itu.
ーーーーーーーーーーーーー
"Aliya, apa yang kamu lakukan?" tanya Farizki.
"Hanya menyelesaikan percobaan kecil untuk mencari 'jiwa' Renai." jawabnya tersenyum.
"Bagaimana hasilnya?"
"Seperti yang ku duga, jiwa Renai berada di tempat itu. tempat yang selalu dibentengi oleh perisai yang sangat sulit kutembus selama bertahun-tahun."jelas Aliya.
"Lalu apa yang kau lakukan?" tanya Farizki lagi.
"Mudah, aku hanya memainkan jiwa seseorang yang bersekolah disana. dan aku akan terus memainkan jiwa nya, sampai dia menjadi pengikut bangsa furo."
prook... prook... prook... suara tepukan tangan membuat Aliya dan Farizki menoleh secara bersamaan ke sumber suara.  "Kekuatanmu membonekakan jiwa seseorang sangat mengagumkan, Al." ucap Pets sembari mengusap-usap kepala Aliya bangga. Aliya tersenyum puas.
"Yah setidaknya biarpun dia yang paling muda, tapi kekuatannya yang paling berjasa saat ini." sahut Roxas yang sedang asik membaca buku tak jauh dari mereka. Senyuman Aliya berganti menjadi mimik muka sebal.
"Sudah hentikan Roxas," Farizki menengahi keadaan.
"Huh!" Aliya meninggalkan tempat itu dengan ketus.
ーーーーーーーーーーーーー
Sore hari nampak Faa, Hal, Thea dan Laras berjalan menyusuri koridor menuju asrama.  "Tika mengirim pesan padaku, dia dan Adit ga ikut latihan malam ini, mereka akan melakukan penelitian lagi tentang rumor furo," ucap Thea memainkan jarinya diatas layar ponsel.
"Lalu Anin, Jojo dan Dicky?" tanya Laras.
"Mereka masih di perpustakaan." sahut Faa.
"Menurut kalian, rumor itu bener apa engga?" tanya Laras.
"Hum.. entahlah. kalaupun benar, pasti bangsa furo sudah meningkatkan kekuatannya untuk bangkit dari segel itu, kan?" ujar Hal.
"Nenek moyang Tika mengorbakan jiwa nya demi menyegel bangsa furo dan bangsa furo bangkit pada masa kita, apapun yang terjadi kita ga boleh menyia-nyiakan pengorbanan leluhur Otto." ucap Faa.
***********************************************
Malam hari, Faa, Hal, Thea, Anin, Dicky, dan Jojo bersiap untuk melakukan latihan, sedangkan Laras memilih berlatih seorang diri dikamarnya.
"Jadi, bagaimana latihan kita malam ini? dimulai dari siapa?" tanya Dicky. Mereka saling melempar pandang satu sama lain.
"Ayo tentukan dengan undian!" usul Anin mengeluarkan sebuah kotak kecil. hasil urutan pun telah keluar. Hal, Dicky, Anin, Thea, Jojo, dan Faa.
Hal masuk kedalam ruangan yang telah ter-set otomatis sesuai dengan 'bakat'nya, sayap perisai. Sayap perisai milik hal dapat berubah menjadi sayap api ataupun sayap berbulu indah. Semua tergantung dari emosionalnya, begitupula dengan besar kecilnya jangkauan sayap perisai dalam melindungi sesuatu.
5 menit telah berlalu dan Hal keluar dari ruangan latihan. Tiap murid hanya boleh melakukan latihan selama 5 menit tiap sesi diruangan latihan, hal ini ditujukan untuk tetap menjaga stamina serta daya tubuh kekuatan secara matang.
"Sugoi! sayap perisai mu memang menakjubkan, Hal! aku ingin..." sambut Anin saat Hal duduk disampingnya.
"Terima kasih, Anin. tapi itu masih belum mencapai targetku. ku rasa aku harus berusaha lebih keras lagi." Hal menyeka bulir-bulir keringatnya yang menetes.
Terlihat Dicky melakukan latihan bakat 'listrik'nya dengan mulus.
"Kekuatan halilintar Dicky makin hebat ya! Dia dengan mudah mengatasi perlawanan otomatis komputer." puji Anin dari luar ruangan latihan.
"Kamu ini, siapa juga di puji... aku ga pernah." keluh Jojo.
"Nin, Jojo cemburu tuh haha" celetuk Thea diikuti dengan tawa Faa dan Hal. Anin melirik kearah Jojo dan pura-pura mengabaikannya.
ーーーーーーーーーーーーー
Didalam ruangan penelitian, nampak Tika sedang memainkan beberapa buku dengan menerbangkan disekitarnya.
"Aku bosan, Adit-kun..." ucap Tika menyenderkan kepalanya dipunggung sofa. "sudah beberapa kitab kita periksa, kita masih belum bisa menseratus persenkan rumor itu..." lanjutnya. Adit diam tak menggubris. "hey, Adit-kun, kamu dengar tidak? Aku bosan!" keluh Tika lagi.
"Lalu kau mau bagaimana, Tika?" sahut Adit tanpa berpaling sedikitpun dari layar komputer.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tika mengakhiri 'permainan' nya dan ikut menatap ke layar komputer. "apa maksud nya ini, Adit-kun?"
"Ini ancaman awal dari bangsa furo. Aku sudah mencurigai tempat ini saat libur kemarin dan aku mencoba 'menscan' tempat ini dari komputer."
"Apa?! Tapi, kenapa tidak ada yang menyadari kalau ada sesuatu terbang bebas ditempat itu?" tanya Tika tak percaya.
"Karna mereka dilindungi sesuatu agar tak nampak sampai waktu yang ditentukan."
"Apa kita tidak bisa memusnahkannya sebelum waktu yang dimaksudkan tiba?"
"Entah, mereka hanya nampak saat aku menscaning melalui media perantara... dan seperti yang kau tau, aku tak bisa melakukan itu terhadap mata manusia." jawab Adit. "Tapi ada satu hal yang menggangguku."
"Mengganggumu? apa?" tanya Tika penasaran.


- Continue - 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar