Hunteroku akademi, sebuah tempat berkedok sekolah
bagi manusia-manusia ber"bakat" luar biasa. Sekolah dengan ukuran
yang tidak normal dan akan membuat orang-orang awam berpikir bahwa ini sebuah
sekolah elit tingkat atas, tanpa mengetahui apa isi didalamnya.
Fazria masih berdiri didepan gerbang dan menatap
lekat-lekat bangunan itu. kakinya seolah enggan mengikuti perintah untuk
melangkah masuk ke gedung itu. o'ouch kenapa kamu tidak bergerak mengikutiku,
kaki sialan! gumamnya kesal tetap mencoba menggerakan kakinya.
"Apa yang kamu lakukan disini fa? kenapa ga
masuk?" sapa seorang cewek.
"Ah gapapa, hal.. hanya, otak dan kaki ku
sedang tidak akur." jawab Faa.
"Sejak kapan otak dan kaki mu pernah akur
disaat mau memasuki sekolah?" ledeknya disambut cubitan gemas Faa di lengan gadis itu. Hal menggandeng lengan Faa dan
beranjak masuk melewati gerbang.
"Ah, ohayou Faa, Hal," sapa Tika saat mereka berjalan menyusuri koridor sekolah.
"Ohayou Tika-chan" sahut Faa dan Hal berbarengan.
"Bagaimana liburan kalian kemarin?" tanya
nya.
"Flat!"
jawab hal cepat.
"Idem," sahut Faa. "gimana
denganmu?"
"Aku melakukan beberapa penelitian bersama
adit-kun," jawabnya sembari membuka pintu kelas.
"Ah, ohayou
kalian!" sambut Anin, yang sedang berkumpul dengan Jojo, Laras, dan Dicky. Mereka pun menghampiri mereka.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Tika.
"Tika, kamu kan berasal dari keluarga otto, apa
benar bangsa furo akan bangkit?" tanya Laras.
"Bangsa furo bangkit? tidak mungkin... bukankah
mereka sudah disegel selama ratusan tahun?" ucap Faa sembari menatap Tika,
meminta peyakinan argumen.
"Bener kata Faa, lagipula kamu dapet kabar
begitu darimana sih, Ras?" tanya Jojo.
"Etto...
tadi aku tak sengaja mendengar pembicaraan para guru ttg kebangkitan bangsa
furo," aku nya.
"Bukannya tidak sengaja, tapi itu memang
'bakat' mu..." celetuk Dicky. Laras cengengesan.
Begitulah 'bakat' yang terkumpul dalam akademi ini.
bakat yang hanya dimiliki oleh orang-orang terpilih dan tidak terpengaruh dari
silsilah keturunan keluarga. Oh, kecuali keluarga Otto. Seluruh keturunan
keluarga otto pasti memiliki 'bakat' dengan jenis yang berbeda-beda. maka dari
itu keluarga Otto dianggap suci karna tiap-tiap anggota keluarganya memiliki
anugrah 'bakat' tanpa terkecuali.
"Hey, hey, Tika, apa ini ada hubungannya dengan
penelitian yang kamu lakukan bersama Adit?" tanya Hal.
"Itu..."
"Itu masih belum 100%, aku dan tika masih akan
melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini." sela Adit yang baru
saja tiba dikelas bersama seorang cewek.
"Berarti apa yang didengar Laras ada benarnya,
kan?" ujar Anin. baik Adit maupun Tika tidak ada yang menjawab hal itu.
"Mau bangkit atau tidak para bangsa furo itu,
kita harus tetap menjadi kuat, bukan?" ucap Thea.
"Itu benar, kita berada disekolah ini karna
kita orang-orang pilihan dan sekolah ini membantu kita menjadi lebih kuat untuk
melindungi manusia dari ancaman apapun, terutama bangsa furo..." ucap Jojo. semua memandang Jojo, terkesima akan kebijakannya.
"Kamu kesambet apa Jo bisa bijak gitu?"
tanya Anin.
"Kesambet cintamu," sahutnya cengengesan. Anin mencubit lengan Jojo. Kami tertawa melihat tingkah kedua orang itu.
ーーーーーーーーーーーーー
"Aliya, apa yang kamu lakukan?" tanya Farizki.
"Hanya menyelesaikan percobaan kecil untuk
mencari 'jiwa' Renai." jawabnya tersenyum.
"Bagaimana hasilnya?"
"Seperti yang ku duga, jiwa Renai berada di
tempat itu. tempat yang selalu dibentengi oleh perisai yang sangat sulit
kutembus selama bertahun-tahun."jelas Aliya.
"Lalu apa yang kau lakukan?" tanya Farizki
lagi.
"Mudah, aku hanya memainkan jiwa seseorang yang
bersekolah disana. dan aku akan terus memainkan jiwa nya, sampai dia menjadi
pengikut bangsa furo."
prook...
prook... prook... suara tepukan tangan membuat Aliya dan Farizki menoleh secara bersamaan ke sumber suara. "Kekuatanmu membonekakan jiwa seseorang
sangat mengagumkan, Al." ucap Pets sembari mengusap-usap kepala Aliya
bangga. Aliya tersenyum puas.
"Yah setidaknya biarpun dia yang paling muda,
tapi kekuatannya yang paling berjasa saat ini." sahut Roxas yang sedang
asik membaca buku tak jauh dari mereka. Senyuman Aliya berganti menjadi mimik
muka sebal.
"Sudah hentikan Roxas," Farizki menengahi
keadaan.
"Huh!" Aliya meninggalkan tempat itu
dengan ketus.
ーーーーーーーーーーーーー
Sore hari nampak Faa, Hal, Thea dan Laras berjalan
menyusuri koridor menuju asrama. "Tika
mengirim pesan padaku, dia dan Adit ga ikut latihan malam ini, mereka akan
melakukan penelitian lagi tentang rumor furo," ucap Thea memainkan jarinya diatas layar
ponsel.
"Lalu Anin, Jojo dan Dicky?" tanya Laras.
"Mereka masih di perpustakaan." sahut Faa.
"Menurut kalian, rumor itu bener apa
engga?" tanya Laras.
"Hum.. entahlah. kalaupun benar, pasti bangsa
furo sudah meningkatkan kekuatannya untuk bangkit dari segel itu, kan?"
ujar Hal.
"Nenek moyang Tika mengorbakan jiwa nya demi
menyegel bangsa furo dan bangsa furo bangkit pada masa kita, apapun yang terjadi
kita ga boleh menyia-nyiakan pengorbanan leluhur Otto." ucap Faa.
***********************************************
Malam hari, Faa, Hal, Thea, Anin, Dicky, dan Jojo
bersiap untuk melakukan latihan, sedangkan Laras memilih
berlatih seorang diri dikamarnya.
"Jadi, bagaimana latihan kita malam ini?
dimulai dari siapa?" tanya Dicky. Mereka saling melempar pandang
satu sama lain.
"Ayo tentukan dengan undian!" usul Anin
mengeluarkan sebuah kotak kecil. hasil urutan pun telah keluar. Hal, Dicky, Anin, Thea, Jojo, dan Faa.
Hal masuk kedalam ruangan yang telah ter-set otomatis
sesuai dengan 'bakat'nya, sayap perisai. Sayap perisai milik hal dapat berubah
menjadi sayap api ataupun sayap berbulu indah. Semua tergantung dari
emosionalnya, begitupula dengan besar kecilnya jangkauan sayap perisai dalam
melindungi sesuatu.
5 menit telah berlalu dan Hal keluar dari ruangan
latihan. Tiap murid hanya boleh melakukan latihan selama 5 menit tiap sesi
diruangan latihan, hal ini ditujukan untuk tetap menjaga stamina serta daya
tubuh kekuatan secara matang.
"Sugoi! sayap perisai mu memang menakjubkan, Hal! aku ingin..." sambut Anin saat Hal duduk disampingnya.
"Terima kasih, Anin. tapi itu masih belum
mencapai targetku. ku rasa aku harus berusaha lebih keras lagi." Hal
menyeka bulir-bulir keringatnya yang menetes.
Terlihat Dicky melakukan latihan bakat 'listrik'nya
dengan mulus.
"Kekuatan halilintar Dicky makin hebat ya! Dia
dengan mudah mengatasi perlawanan otomatis komputer." puji Anin dari luar
ruangan latihan.
"Kamu ini, siapa juga di puji... aku ga
pernah." keluh Jojo.
"Nin, Jojo cemburu tuh haha" celetuk Thea
diikuti dengan tawa Faa dan Hal. Anin melirik kearah Jojo dan pura-pura
mengabaikannya.
ーーーーーーーーーーーーー
Didalam ruangan penelitian, nampak Tika sedang
memainkan beberapa buku dengan menerbangkan disekitarnya.
"Aku bosan, Adit-kun..." ucap Tika
menyenderkan kepalanya dipunggung sofa. "sudah beberapa kitab kita
periksa, kita masih belum bisa menseratus persenkan rumor itu..."
lanjutnya. Adit diam tak menggubris. "hey, Adit-kun, kamu dengar tidak? Aku bosan!" keluh Tika lagi.
"Lalu kau mau bagaimana, Tika?" sahut Adit
tanpa berpaling sedikitpun dari layar komputer.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tika
mengakhiri 'permainan' nya dan ikut menatap ke layar komputer. "apa maksud
nya ini, Adit-kun?"
"Ini ancaman awal dari bangsa furo. Aku sudah
mencurigai tempat ini saat libur kemarin dan aku mencoba 'menscan' tempat ini
dari komputer."
"Apa?! Tapi, kenapa tidak ada yang menyadari
kalau ada sesuatu terbang bebas ditempat itu?" tanya Tika tak percaya.
"Karna mereka dilindungi sesuatu agar tak
nampak sampai waktu yang ditentukan."
"Apa kita tidak bisa memusnahkannya sebelum
waktu yang dimaksudkan tiba?"
"Entah, mereka hanya nampak saat aku menscaning
melalui media perantara... dan seperti yang kau tau, aku tak bisa melakukan itu
terhadap mata manusia." jawab Adit. "Tapi ada satu hal yang
menggangguku."
"Mengganggumu? apa?" tanya Tika
penasaran.
- Continue -